Selama ini Huawei banyak melakukan kerjasama dengan operator ketika menjual handset. Kini vendor global asal Cina ini mulai serius masuk ke distributor. T&t berkesempatan mewawancarai Riadi Sugihtani, Marketing Director, Terminal Marketing, Huawei.
Kalau dulu kami melihat kerjasama Huawei mengarah ke operator, sekarang mengarah ke distributor. Apakah memang dalam proses mengarah ke sana?
Ya, kita memang sedang mengarah ke sana. Tim kita juga tergolong baru. Huawei dalam tahun-tahun sebelumnya kan sudah bundling. Kita inginnya ke depan Huawei device lebih independen. Nah kita mengarah ke sana.
Tapi bagaimanapun juga kerjasama dengan operator tetap ada. Karena kalau melihat produk kita seperti Android kan juga memerlukan data plan dari operator.
Bisnis Huawei ke depan seperti apa?
Semua bisnis Huawei berorientasi pada kostumer. Device berdiri sendiri. Kita punya infrastruktur yang kuat. Dan kita juga punya yang lain juga. Kita juga punya Huawei device.
Huawei device punya 4 lini bisnis yaitu mobile broadband (modem), handset (ada Android, dll), convergen (home device), dan video conference. Untuk video conference pelanggannya lebih ke corporate. Jadi bukan untuk pelanggan biasa.
Kalau dilihat bisnis nya Huawei waktu awal di Indonesia ada deal dengan operator. Ibaratnya ada bonusnya ponsel. Apakah itu digunakan juga di Android? Sepertinya bargain position nya Huawei bisa lebih kuat dengan cara itu?
Sebenarnya tidak juga. Contoh sebagai data plan, Huawei sama seperti vendor yang lain.
apakah Anda optimis?
Android adalah sesuatu yang menjanjikan. Kita meluncurkan beberapa produk Android. U8100 sudah ada sejak Juli 2010, 8150 juga sudah, dan juga lainnya.
Tablet cukup menarik. Anda melihat tablet seperti apa?
Kalau kita melihat bahwa kita perlu memberikan Android tablet yang lebih terjangkau dan berkualitas baik. Kita tawarkan dengan Huawei Android S7. Harganya juga cukup terjangkau. Dibandingkan dengan pesaing sejenis bisa bersaing.
Namun kalau kita diskusi dengan para distributor, para distributor menanyakan kembali apakah laku? Apakah menggantikan smartphone? Atau pecahan dari smartphone?
Kalau menurut saya dia memang beririsan tapi juga tidak benar-benar menggantikan. Jadi ada sedikit persinggungan sih.
Paling tidak dari sistem operasinya. Demikian juga Android tablet itu bisa digunakan untuk menelepon. Bisa pakai loudspeaker atau pakai earphone. Bisa jadi juga memang orang menggunakan Android tablet, tapi juga menggunakan smartphone. Ada yang buat sebagian konsumen, kompak itu penting. Tapi ada juga yang memerlukan kenyamanan dalam layar besar.
Kalau dalam pandangan Huawei kategori tablet itu berapa inchi?
Tergantung juga. Tapi yang pasti kita belum mendefinisikan. Produk tablet kita belum sebanyak ponsel. Yang sudah diumumkan adalah Huawei S7.
Tablet masuk ke layar keempat atau convergence. Di Huawei, untuk tablet kadang-kadang bisa dikatakan convergence, kadang bisa disebut sebagai home device.
Kalau dilihat dari produsen PC kan semakin banyak yang akan masuk ke tablet. Kami yakin yang mempunyai basic telko lebih unggul dibandingkan yang tidak punya basic telko. Bagaimana Anda melihat?
Industri ini kan terjadi konvergensi. Industri ini kan pergerakannya dari handset menuju ke komputer genggam. Dan sebaliknya, dari industri IT juga mendekat ke perangkat yang lebih kecil. Jadi kita melihatnya sebagai konvergensi saja.
Huawei sudah memiliki nama duluan di kelas ini dibandingkan yang lain. 2011 ini Huawei akan melakukan apa?
Kita akan terus eksis. Yang pasti kita mengambil pelajaran yang kita ambil di 2010. Ada hal yang baik, ada hal yang bisa lebih baik lagi. Dari lini produk kita masih dengan keempat lini produk tadi.
Persentase produk Android akan berapa besar?
Ada beberapa. 2011 produk yang akan diluncurkan di Indonesia cukup banyak. Di antaranya ada Android juga.
Faktor apa yang menentukan untuk memilih produk Android yang akan dipasarkan?
Yang penting bagi kita melihat apa yang dibutuhkan konsumen atau pelanggan. Sejauh apa produk yang kita tawarkan akan memenuhi kebutuhan mereka. Kita lihat berbagai faktor. Dan kita buat portfolio nya dibandingkan juga dengan kompetitor. Juga dengan melihat pasar kita kan bukan hanya pengguna di Indonesia saja, tapi juga pengguna di lain negara.
Bagaimana Anda melihat kebutuhan konsumen di Indonesia?
Saya melihat kebutuhan konsumen Indonesia beragam. Kita lihat kebutuhan akan konektifitas, kebutuhan akan komunikasi itu meningkat. Kita lihat kan smartphone naik. Kita lihat social networking akan terus ada. Orang Indonesia juga suka gaya. Tapi konsumen Indonesia juga ada yang masih sederhana. Yang voice dan SMS saja. Kebetulan yang itu juga masih cukup besar. Yang lebih canggih juga ada walaupun belum terlalu banyak. Seperti berbagai Operating System seperti Android dan lainnya.
Yang canggih seperti smartphone bisa mencapai 10%?
Angka pastinya saya tidak tahu, karena kita di Huawei tidak memiliki kuantifikasi. Kita berdasarkan kualifikasi saja. Namun orang Indonesia juga kelihatannya agak latah. Ketika melihat orang lain menggunakan, ada banyak yang mengikuti.
Tablet untuk 2011 ini akan booming?
Bisa jadi. Memang tak mungkin sebanyak ponsel biasa. Android smartphone akan lebih banyak dari tablet nya. Edukasi perlu proses. BlackBerry juga tidak langsung. Android baru 2010 mengedukasi.
Android kan bisa dikatakan sebagai produk yang multi brand. Vendor nya banyak yang menggunakan Android. Apakah perkembangan Android jauh lebih cepat dari BlackBerry? Apakah ada pemikiran bersama untuk bekerjasama antara para vendor untuk meng-Android-kan masyarakat?
Ini wacana yang bagus sekali. Dengan koalisi mungkin bisa juga. Selama ini ada persaingan di antara vendor. Tapi dengan pemikiran seperti ini bisa dimungkinkan.
Apakah mungkin ke depan yang booming bukan Androidnya sama seperti Symbian di beberapa waktu lalu lebih ke brand nya? Orang tidak peduli apa Symbian, bagi konsumen yang penting perangkat bisa digunakan untuk ini dan itu. Bagaimana menurut Anda?
Untuk konsumen Indonesia, bisa kita contoh komunitas Android. Karena mereka ngerti, buat mereka itu penting. Mereka mengerti seluk beluk tentang Android. Pengikutnya atau orang lain belum tentu tau. Tapi buat kita atau pemain lain, yang akan mendatangkan bisnis besar adalah pada saat orang mulai banyak mengikuti.
Untuk pengikutnya, kita tidak yakin mereka benar-benar tahu Android itu sebenarnya apa, penggunaannya untuk apa, kita tidak yakin mereka benar-benar tahu. Tapi yang pengguna-pengguna intinya (terutama yang di komunitas) mereka sudah tahu.
2010 lalu menjadi momentum penting bagi Huawei dengan meluncurkan Huawei device. Walaupun sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Kebutuhan adanya mobile device sebagai unit tersendiri itu memang penting karena seiring muncul nya banyak permintaan. Yaitu dengan banyaknya permintaan dari operator. Sehingga unit bisnis mobile device ini memang menyeluruh di mana-mana.
Meski berasal dari Cina, tapi Huawei berbeda dibandingkan produk-produk buatan Cina lainnya. Bagaimana menurut Anda?
Memang kita merupakan brand global. Device sebelum diluncurkan harus memenuhi standar global. Semua standar industri di Huawei benar-benar dipenuhi. Jika orang berbicara mengenai Cina brand, saat ini asosiasinya sudah berbeda. Tapi Huawei tidak sama dengan itu. Di pasar banyak brand modem. Dan Huawei layak lah untuk dibeli. Kalau mobile broadband kita memang nomor 1 ya.
Mudah-mudahan untuk handset nya seperti itu. Kapan kira-kira Huawei bisa jadi nomor 1 di handset?
Kita harus akui, leading pasar tetap Nokia.
Target nya bagaimana?
Kita memang memiliki target dari tahun ke tahun. Saat ini memang kita mobile device masih kecil sekali.
Tapi belajar dari merek lokal yang ada di Indonesia loh. Kecil dan backup nya kecil juga. Apakah Huawei tidak bisa lari secepat mereka?
Memang selama ini kalau bicara mengenai Huawei, persepsi nya Esia. Namun setelah banyak program bundling, kita juga mulai melihat untuk masuk langsung ke pasar. Service center sudah mulai dibangun di Roxy sejak 2009. Di dalam grup nya terminal atau device ada sales, ada after sales.
Organisasinya besar juga ya?
Hampir 100.000 karyawan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri 1200 an. Dari sekitar 100.000 karyawan Huawei Global, 46% dari mereka adalah di bagian R&D. Kita melihat R&D itu penting sekali untuk melakukan inovasi.
Kembali lagi untuk masuk 5 besar dalam berapa tahun?
Ya masih beberapa tahun lah.
Kita melihat dari beberapa brand yang ada, kelihatannya Huawei punya potensi cukup karena memiliki background telko yang kuat. Hanya saja, bisnis yang dipilih beberapa waktu lalu adalah bundling dengan operator terlebih dahulu. Mungkin kalau waktu itu langsung direct ke pasar akan lain ya ceritanya?
Yang pasti kita perlu berhati-hati ketika masuk ke pasar.
sumber : T&t Magazine – IT & Web Development Dept.



